• Journal Of Tasawwuf Studies
    Vol 2 No 01 (2019)

    Bismillahi Rahmani Rahîm. Shalawat serta salam semoga tercurah bagi junjungan mulia kita Rasulullah Saw. Mungkin muncul beberapa pertanyaan dari sidang pembaca Journal of Tasawwuf Studies mengenai apa dan bagaimana sebenarnya jurnal ini, termasuk arah pengembangannya. Berbeda dari kebanyakan lainnya bahwa sebuah jurnal dikeluarkan oleh institusi pendidikan atau perguruan tinggi, maka Journal of Tasawwuf Studies ini berada di bawah pengelolaan Perhimpunan Islam Paramartha, sebuah institusi yang menjadi wadah bagi kiprah amal shalih para salik Thariqah Qudusiyah. Thariqah merupakan implementasi tashawwuf sebagai bagian integral dari Ad-Dîn Al-Islam. Thariqah merupakan cara atau metoda untuk menjalani kehidupan dunia tanpa ‘terbasahi’ olehnya. Kata thariqah itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti jalan, setara dengan kata path atau way dalam bahasa Inggris. Dalam konteks Islam, thariqah, atau dalam lisan kita biasa disebut sebagai tarekat, adalah jalan pertaubatan untuk kembali kepada Allah (taubat itu sendiri berasal dari kata tâba yang artinya “kembali”), melalui jalan penyucian jiwa dan hati. Ini terlihat dalam QS Thâhâ [20]: 77, “Dan sungguh, telah Kami wahyukan pada Musa, ‘Tempuhlah perjalanan di malam hari bersama para hamba-hamba-Ku, buatlah untuk mereka jalan kering di laut (thariqan fil bahr). Janganlah mencemaskan akan tersusul, dan janganlah menjadi takut.” Konsepsi thariqah adalah pelengkap dari syariat, yang juga memiliki makna jalan, setara dengan road atau street dalam bahasa Inggris, Jalan yang dimaksud oleh syariat adalah jalan seperti di kota atau di daratan, di mana seseorang cukup melihat sekelilingnya untuk mengetahui posisi dan ke arah mana dia harus melangkah. Sedangkan makna thariqah adalah jalan yang lebih abstrak, lebih halus, dan mutlak membutuhkan petunjuk arah untuk menempuhnya. Maka, di jalan yang tak tampak seperti ini, rasa pengharapan dan kebutuhan pertolongan Yang Maha Kuasa akan muncul sangat nyata pada diri seseorang. Kehadiran thariqah sebagai dimensi spiritual telah lama dikenal dalam tradisi islam sehingga saat ini juga dikenal thariqah sebagaimana mazhab dalam syariah (fiqh). Adapun Journal of Tasawwuf Studies ini mewakili thariqah qudusiyah, sebuah thariqah yang muncul di tahun 1992 dan sampai saat ini telah berkembang di beberapa provinsi di Indonesia juga di luar negeri. Dengan demikian, Journal of Tasawwuf Studies ini merupakan jurnal internal sebagai perwujudan dari khazanah thariqah qudusiyah yang bersumber dari ajaran Rasulullah saw dalam Al-Quran dan hadits namun dibahasakan secara ilmiah agar dapat menjadi rujukan dan telaah para akademisi, baik internal maupun eksternal qudusiyah. Jurnal ini merupakan kajian ilmu dan hukum dalam islam, artinya menyoroti bukan saja hukum agama, namun juga keilmuan secara umum akan tetapi dalam bingkai kajian keislaman, khususnya perspektif tashawwuf. Dengan demikian, ke depannya jurnal ini juga akan menyoroti suatu permasalahan yang dipandang dari sudut keilmuan tertentu untuk kemudian dirangkaikan dengan kajian keislaman. Sebagaimana halnya jurnal perdana di tahun pertama, jurnal ini pun terdiri dari lima tulisan sebagaimana tercantum dalam daftar isi. Demikian pengantar dari redaksi kali ini. Semoga Journal of Tasawwuf Studies ini memberi banyak manfaat bagi masyarakat agar khazanah keilmuan islam kembali jaya di muka bumi ini. Amîn Ya Rabb Al-Alamîn. Wassalam.[]

  • Journal Of Tashawwuf Studies Vol.1 No.01 Januari 2018 Journal Of Tasawwuf Studies
    Vol 1 No 01 (2018)

    Pada tahun 2000, Yayasan Islam Paramartha (YIP) pernah meluncurkan Jurnal Ruh Al-Quds dan dikelola oleh PICTS (Paramartha International Centre for Tasawwuf Studies) yang baru saja didirikan. Selain Jurnal Ruh Al-Quds, PICTS pun mengelola Journal of Psyché (jurnal yang mengkaji tentang titik temu antara psikologi modern dan tasawwuf secara lebih ketat) dan Jurnal Politeia (jurnal yang mengkaji tentang berbagai isu humaniora). Namun, dikarenakan sebagian besar pengelolanya memiliki profesi lain di bidang non-akademik, maka kelanjutan ketiga jurnal tersebut terhenti. Lalu, tujuh belas tahun kemudian, sebagian besar personel awal pengelola ketiga jurnal ini pun digantikan oleh para personel baru yang masih muda dan bersemangat ingin menghidupkan kembali secara bertahap ketiga jurnal tersebut. Setelah dirumuskan sedemikian rupa selama sekian waktu, maka Jurnal Ruh Al-Quds pun berganti nama menjadi Journal of Tasawwuf Studies dengan fokus bahasan adalah kajian tentang berbagai macam ilmu dan seluk beluknya dalam Islam serta kajian hukum atau syariat dalam Islam yang juga dibedah melalui perspektif tasawwuf. Untuk nomor perdana Journal of Tasawwuf Studies ini, redaksi mengangkat tema utama tentang Struktur Insan karena wawasan mengenai jasad, nafs, dan rûh sangat penting untuk memahami manusia dan juga dalam memahami tasawwuf—sebagai syariat batin dalam Islam—terlebih pemahaman ihwal ketiga entitas kedirian manusia selalu menjadi campur aduk, lalu meleset mengidentifikasi dan membedakan antara satu dan lainnya. Ketiga entitas itu adalah suatu hal yang sudah diidentifikasi lebih dari seribu tahun yang lalu oleh Imam Al-Ghazali dan masih tetap bertahan hingga saat ini sebagaimana yang ditunjukkan pula oleh Jane Idelman Smith dan Yvonne Yazbeck Haddad. Dalam keseharian, kita mendapati bagaimana dalam acara pemakaman, para hadirin masih diminta untuk berdoa agar arwahnya diterima di sisi Tuhan atau dalam kajian psikologi (Islam) yang tidak jarang meleset dalam membedakan antara nafs sebagai entitas otonom dari tubuh dan psikis dalam psikologi modern yang diidentifikasi sebagai aspek mental dari tubuh atau membedakan antara nafs dan rûh yang seringkali malah jadi saling dipertukarkan. Untuk nomor perdana ini, tiga tulisan pertama adalah dari Zamzam A. Jamaluddin T., Muhammad Sigit Pramudya dan Kuswandani, Alfathri Adlin yang secara khusus membahas ihwal seluk beluk Struktur Insan tersebut. Kemudian, dilanjutkan dengan tulisan dari Saleh Rahmana yang membahas ihwal ma‘rifat—atau diistilahkan juga sebagai penemuan diri—dalam khazanah Ibn ‘Arabi dan ditutup oleh tulisan dari Bambang Setyadi Machmud yang mengkaji ihwal syariat menggauli budak perempuan dalam Islam, suatu hukum kontroversial bagi banyak orang dan tidak pernah dihapuskan dalam Islam. Tulisan itu disajikan dengan menelusuri medan semantik dan juga pemahaman tasawwuf sehingga dapat dilihat lebih dalam kenapa Islam memiliki hukum yang tampaknya seperti melanggengkan perbudakan dan melecehkan perempuan. Demikian pengantar dari redaksi. Semoga jurnal ini dapat bermanfaat bagi Anda, para pembaca kami, dan semoga para personel baru dari Journal of Tasawwuf Studies dapat konsisten menjaga keberlanjutan penerbitan jurnal ini sebagai pintu masuk bagi siapa pun yang ingin mengenal Islam sebagai ad-dîn yang terdiri dari tiga rukun, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan, serta ketiganya tidak boleh dipisahkan satu sama lain agar seorang muslim tidak terjatuh ke dalam kemusyrikan sebagaimana ditegaskan dalam AlQur'an. Wassalam.[]